Pages

Monday, 15 June 2015

Akhirnya Balik Juga

Alhamdulillah sekarang saya bisa mulai nulis lagi. Setelah hampir dua tahunan nggak nulis apa-apa di blog ini, akhirnya bisa nulis juga.
Kemarin-kemarin tu lama nggak nulis gara-gara banyak event yang harus dikerjakan. Alhamdulillah ada kerjaan baru juga. Karena saya lulusan sebuah perguruan tinggi kedinasan yang terletak di daerah Bintaro sektor 5 dengan inisial STAN, ya akhirnya saya dipercaya negara ini untuk jadi abdi negara di sebuah kantor di bilangan Lapangan Banteng dengan kode SJ.424 (cari tau sendiri ya.hehe). Karena jadi pegawai baru, banyak kegiatan bermacam-macam terutama yang berhubungan dengan yang namanya orientasi.
Selain itu ada juga event pribadi yang mesti dilakukan sehingga membuat perhatian saya ke blog ini jadi teralihkan. Sekarang saya sudah niat dalam hati saya (masa dalam hatimu?hehe) untuk kembali menulis lagi. Kebetulan permasalahan yang semakin banyak membuat saya harus sering bercerita supaya otak ini nggak overload dan nge-hang.
Akhirul kalam, semoga tulisan-tulisan saya ke depan nantinya bisa bermanfaat ya.

Friday, 17 May 2013

Cinta Monyet & Cinta Harimau


Suatu hari sepasang suami istri pergi ke Kebun Binatang. Di sana, keduanya melihat seekor monyet sedang bermain dengan pasangannya. Seketika sang istri berkomentar,"Aduhai alangkah indahnya cinta mereka!"Kemudian kedua sejoli itu berlalu lalu berhenti di depan kandang harimau. Keduanya menyaksikan seekor harimau jantan duduk termangu, sedang pasangannya, harimau betina, berada sedikit jauh dari sang jantan. Sang istripun berkomentar,"Ooh dingin sekali! betapa pilunya kisah cinta mereka!"Sang suami lalu memberi tanggapan terhadap komentar istrinya seraya berkata, "Coba lempar harimau betina itu dengan serpihan kaca ini; lihat reaksi harimau jantan itu." Ketika serpihan kaca dilemparkan ke arah harimau betina, serta merta si raja hutan itu bangkit meradang dan mengaum melindungi betinanya.Kemudian sepasang anak Adam 'alaihissalam itu kembali ke kandang monyet untuk melakukan hal yang sama. Sang istri melemparkan potongan kaca lain ke arah monyet betina. Ternyata begitu kaca dilemparkan ke arah sang betina, si monyet jantan spontan lari pontang-panting menyelamatkan diri sendiri agar tidak terkena lemparan serupa.Laki-laki itu pun berpetuah kepada istrinya,"Janganlah Adinda tertipu dengan penampilan orang di depan mata, karena sebagian orang menipu orang lain dengan sikap manisnya yang palsu, namun ada pula yang tulus dan menyimpan kejujuran di dalam lubuk hatinya."

copas dari artikel di majalah Qiblati edisi 5 tahun VIII

Sunday, 5 May 2013

Guru dan Murid

Pada beberapa hari yang lalu, saya melakukan hal yang menjadi rutinitas selama menunggu penempatan. Yaitu mengantar ibu ke tempat kerjanya di SMAN 1 Pemalang dengan motor. Pada saat berhenti di pertigaan Sirandu, saya melihat seorang siswi SMAN 1 Pemalang sedang naik motor. Siswi tersebut sempat menoleh ke arah saya dan ibu, tapi dia tidak mengucapkan salam ataupun menebar sedikit senyumnya (padahal kalau mau senyum kan bakal kelihatan lebih cantik dek.hehehe). Saya jadi kaget, terpana, dan hampir-hampir tidak percaya saat lihat adegan ini. Sama gurunya sendiri kok gitu.
Saat lampu pertigaan menyala hijau, saya sempet sedikit berbincang dengan ibu. lebih kurangnya begini percakapannya (sebenarnya dalam bahasa Jawa, tapi takutnya ntar malah pada bingung.hehehe).

Saya: "bu, anak sekarang kok kayaknya nggak pada kenal sama gurunya ya?"
Ibu: "iya mas(ini panggilan sayang ibu ke saya). Kebanyakan kalau sama guru yang mengajar di kelasnya atau jurusannya, mereka hormat dan nunduk-nunduk. Tapi kalau sama guru yang nggak mengajar atau beda jurusan ya nggak kenal"
Saya: "wah,kok parah banget ya. Saya saja masih kenal sama guru saya dari SD sampai sekarang. Walaupun nama ada yang lupa, tapi kalau wajah mesti ingat. Dan saya pasti akan kasih senyum ke mereka"
Ibu: "ya gitu lah sekarang. Kalau sama guru yang mengajar kan mereka ada kepentingan nilai. Kalo sama yang nggak ngajar kan nggak ada" (Saya langsung berpikir dalam pikiran, "wah, matre banget kalau gitu")
Saya: "sama gurunya saja gitu. Apalagi sama OB, petugas TU, sama pedagang kantin ya. nggak bisa dibayangkan"

Lalu sampailah kami di depan gerbang SMAN 1 Pemalang. Lalu ibu pun pasti mengucapkan ucapan rutinnya, "Wis sek yo le" (artinya, "udah dulu ya nak") dan saya pun menjawabnya dengan "iyo bu".
Ya begitulah realita yang saya lihat saat ini. Penghormatan siswa pada gurunya sudah berkurang. Sebagian besar menganggap bahwa seorang guru hanya penting untuk mendapatkan nilai, bukan untuk mencari ilmu atau memperbaiki diri. Tapi tidak dipungkiri juga kalau saat ini banyak guru yang kurang bisa untuk dihormati bahkan malah menjadi contoh buruk bagi muridnya. Mereka tidak menjadi seseorang yang bisa digugu(diikuti tutur katanya/ilmunya) dan ditiru. Jamak saat ini guru yang merokok bareng anak didiknya, guru yang hobi buka gambar atau video porno di komputer sekolah, dan ada yang bolos mengajar tanpa alasan.
Agar terjadi sinergi yang baik, tentunya kedua belah pihak harus memperbaiki diri. Para guru harus belajar agar bisa menjadi seseorang yang digugu dan ditiru. Sedangkan para murid harus mengubah mindset-nya tentang sekolah, bahwa sekolah adalah tempat mencari ilmu. Bukan tempat mencari nilai. Karena jika kita menguasai ilmu itu, tentunya nilai akan datang dengan sendirinya.
Semoga hal ini tidak terjadi lagi di kemudian hari. Saya sangat ingin melihat saat anak-cucu saya bersekolah, murid-muridnya bisa lebih menghargai guru dan menganggapnya sebagai teman belajar, pembimbing akhlak, dan teladan yang baik. Semoga saja, dalam beberapa waktu ke depan juga semakin banyak guru yang baik. Yaitu guru yang bisa bisa dijadikan teladan, sabar dalam membimbing anak didiknya, dan mau memperhatikan akhlak para murid. Tidak hanya menjadi guru yang memberi banyak tugas dan ulangan, marah kalau nilai anak didiknya jelek, tapi sering bolos mengajar. Sebuah harapan yang tidak semu menurut saya.